
Jakarta (14/10). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua memicu kabut asap. Kebakaran yang berulang itu dapat merusak ekosistem, mengganggu keseimbangan lingkungan, sekaligus menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi masyarakat di dalam negeri, hingga negeri tetangga.
Peringatan itu ditegaskan Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya dan mengingatkan pencegahan karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama, “Sebagai bagian dari civil society, LDII terus mengimbau warga untuk melestarikan lingkungan. Kami mewujudkannya melalui program LDII Go Green, dengan pemanfaatan lahan terbengkalai dan lahan gambut agar menjadi lahan produktif dan bernilai guna,” ujar Dody.
Menurutnya, kerusakan ekosistem akibat karhutla dapat berlangsung panjang. Hutan dan lahan yang terbakar kehilangan fungsi ekologisnya, sementara hilangnya vegetasi dapat mengganggu tata air dan memperbesar kerentanan lingkungan terhadap kekeringan maupun bencana lainnya.
Dody menilai gerakan menjaga lingkungan merupakan bagian dari dakwah bil haal, yakni dakwah yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan mulai dari keluarga, sekolah, pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan, “Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Alam yang kita jaga hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi berikutnya,” ujarnya.
Dody mengatakan, upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten melalui pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, penghijauan, konservasi air, serta edukasi kepada masyarakat. Ia berharap kesadaran lingkungan tidak hanya muncul ketika bencana terjadi. Menurutnya, budaya menjaga alam harus menjadi kebiasaan sehari-hari, “Kalau lingkungan kita rawat, manfaatnya kembali kepada masyarakat. Sebaliknya, ketika lingkungan rusak, manusia juga yang pertama merasakan dampaknya,” kata Dody.
Penanganan Karhutla
Ia mendukung langkah pemerintah menangani karhutla secara cepat dan terintegrasi ketika titik api sudah meluas. Upaya menjaga kelestarian lingkungan tetap penting sebagai langkah pencegahan, namun tidak cukup untuk menangani karhutla yang sedang berlangsung, “Menjaga lingkungan memang penting untuk mencegah karhutla ke depan. Tetapi ketika karhutla sudah terjadi dan meluas, yang dibutuhkan adalah tindakan cepat untuk menghentikan kebakaran dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat,” tegas Dody.
Menurutnya, pemadaman udara perlu dilakukan secara efektif di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Penggunaan helikopter water bombing dapat diprioritaskan pada titik kebakaran yang sulit dikendalikan dari darat, terutama di kawasan gambut dan wilayah dengan akses terbatas.
Selain pemadaman, pemerintah juga dapat mengoptimalkan teknologi modifikasi cuaca atau rekayasa cuaca untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah terdampak. Langkah tersebut diperlukan sebagai bagian dari operasi terpadu, terutama ketika kondisi atmosfer dan cuaca memungkinkan.
Pemantauan titik panas melalui satelit juga perlu diperkuat untuk mendeteksi lokasi kebakaran secara cepat. Data tersebut harus terintegrasi dengan informasi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan sehingga respons dapat dilakukan sebelum api semakin meluas, “Teknologi pemantauan harus diikuti dengan respons yang cepat. Jangan sampai titik panas sudah terdeteksi, tetapi penanganannya terlambat,” katanya.
Di sisi lain, penanganan karhutla harus disertai penegakan regulasi yang tegas. Pemerintah perlu mengusut penyebab kebakaran dan memberikan sanksi kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, “Jika karhutla terbukti disebabkan oleh aktivitas korporasi atau pemegang izin, sanksi administratif maupun hukum harus diterapkan sesuai ketentuan, termasuk evaluasi hingga pencabutan izin apabila ditemukan pelanggaran berat,” tegas Dody.
Selain kerusakan lingkungan, karhutla juga membawa konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat. Ketua DPP LDII Dicky Budiman mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama jika terjadi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan gas iritan yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.
Dicky mengatakan, paparan asap dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.
“Dampaknya tidak hanya pada saluran pernapasan. Partikel halus dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung,” ujar Dicky.
Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan. Sementara pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit kronis, risikonya dapat lebih besar. Menurut Dicky, paparan berulang setiap musim karhutla juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan paru-paru anak dan meningkatkan beban penyakit kronis di wilayah terdampak.
Menjaga Kesehatan Keluarga Saat Karhutla
Dicky meminta masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, napas cepat atau berbunyi, nyeri dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing berat, pingsan, batuk yang semakin parah, demam tinggi, atau bibir dan ujung jari membiru, “Pada penderita asma atau PPOK, jika obat yang biasanya digunakan sudah tidak membantu, itu juga merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera,” katanya.
Untuk masyarakat yang tidak dapat mengungsi, Dicky menyarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga berat, serta menutup pintu, jendela, dan celah ventilasi ketika asap sedang tebal. Jika harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel tinggi, seperti N95.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah, merokok, atau memasak yang menghasilkan asap di dalam ruangan. Asupan cairan dan gizi juga perlu dijaga. Khusus bayi dan anak-anak, Dicky menekankan perlunya perlindungan ekstra karena saluran pernapasan mereka lebih sempit dan paru-parunya masih berkembang.
“Jangan membawa bayi dan anak-anak keluar rumah ketika asap tebal. Jika memungkinkan, siapkan satu ruangan dengan udara yang lebih bersih, bersihkan permukaan dengan kain basah, dan gunakan penjernih udara jika tersedia,” ujar Dicky yang juga berprofesi sebagai dokter, epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia.
Dicky menambahkan, apabila kondisi memburuk dan kualitas udara di rumah tidak memungkinkan untuk bertahan, keluarga sebaiknya memanfaatkan ruang evakuasi atau tempat dengan udara lebih bersih yang disediakan pemerintah, “Untuk bayi, pastikan kebutuhan cairan, ASI, gizi, dan waktu istirahat tetap terpenuhi. Yang paling penting, pantau terus tanda-tanda bahaya dan segera mencari pertolongan jika kondisi anak memburuk,” pungkasnya.
Ketua DPW LDII Kepulauan Bangka Belitung, Supriyadi mengingatkan kepada masyarakat dalam hal ini karhutla menimbulkan kerugian jangka panjang dalam hal ekonomi, sosial maupun vegitasi hutan sendiri dengan harapan agar kita bisa menjaga lingkungan jaga hutan aga ekosistem yang ada bisa berjalan seimbang, ” ungkapnya. Hindari pembukaan lahan dengan cara instan dengan pembakaran hutan karena berdampak sangat besar, baik folusi, hilangnya vegetasi, dan lamanya untuk pemulihan hutan berakibat banjir ketika musim hujan, dan juga longsor, mari kita jaga sama-sama hutan kita untuk kelestarian alam semesta, “tutupnya.
