Ghea yang meraih juara dua baca puisi FLS2N tingkat Kabupaten Bangka Tengah. (Foto: Dokumentasi Pribadi Guru Pembimbing Ghea, Ramba Pratiwi).

LUBUK BESAR – Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) digelar pada Rabu (19/4) di Gedung Serba Guna (GSG), merupakan ajang mengasah bakat siswa Sekolah Dasar (SD).

Peserta yang diikuti oleh Murid SD yang mewakili kecamatan masing-masing, setelah lolos pada seleksi FLS2N tingkat kecamatan.

Seperti Gheanida Chelsea Vadila (12), Tahfidz cilik LDII, murid kelas 5 di SDN 1 Lubuk Besar ini salah satu contohnya.

Ghea, dikenal sebagai Murid yang cerdas. Kenapa tidak? Karena sejak kelas 1 – 5 SD, ia mampu mempertahankan prestasinya sebagai juara kelas.

Selain dikenal murid yang cerdas dan berprestasi, ia juga berbakat di bidang cipta dan baca puisi oleh Ramba Pratiwi, guru pembimbingnya.

Bakat alaminya muncul saat Ghea duduk di kelas 3 SD. Saat itu Ibu Ramba sebagai wali kelasnya, dan ada materi pelajaran membaca puisi untuk meminta anak muridnya maju satu per satu untuk membacakan Puisi.

Ketika giliran Ghea maju, dan pertama kali Ramba mendengarkan puisi yang dibacakan Ghea. Dia terpikat dengan penjiwaan Ghea dalam membacakan puisi.

Akhirnya Ghea dipilih dan dipercaya sebagai kontestan yang mewakili SDN 1 Lubuk Besar, untuk mengikuti FLS2N tingkat kecamatan Lubuk Besar pada tahun 2016.

Perlombaan FLS2N tingkat Kabupaten Bateng 2016 yang pertama kali diikuti Ghea, berhasil keluar sebagai juara kedua lomba Cipta dan baca Puisi.

Pada perlombaan FLS2N tingkat Kabupaten Bateng 2017 yang digelar Rabu kemarin (19/4), Ghea pun harus puas meraih juara dua.

Ada hal yang berbeda dari perlombaan sebelumnya pernah diikuti Ghea.

Walaupun belum bisa menyabet gelar juara pertama, ia berhasil menunjukkan penampilan terbaiknya.

Penampilan Ghea dengan penuh penjiwaan, membuat sebagain besar penonton yang hadir di GSG meneteskan air mata.

Inilah puisi wajib yang dibacakan para peserta FLS2N, termasuk Ghea, yang membuat penonton meneteskan air mata.

IBU

(Karya Mustafa Bisri)

Kaulah gua teduh
Tempat ku bertapa bersamamu sekian lama
Kaulah kawah
Darimana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir
Membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
Berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, laut dan langit
Yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
Yang mengawal perjalanku
Mencari jejak surga ditelapak kakimu
(Tuhan, aku bersaksi ibuku telah melaksanakan amanatmu
menyampaikan kasih sayangmu
Maka kasihilah ibuku seperti Kau mengasihi kekasih-kekasihMu
Amin)

Penjiwaan Ghea muncul disebabkan  keluarganya pulang Mudik ke kampung halaman Ayahnya, Vam Budi di Lampung.

“Ghea menangis dan penuh penjiwaan saat membacakan puisi tentang ibu, karena kata Ghea, dia ingat ibunya,” cerita Pratiwi.

Menurutnya, penampilan anak didiknya ini sudah bagus dengan penjiwaan yang luar biasa. Namun power suaranya yang kurang kuat.

“Sebenarnya sudah oke banget penjiwaannya, bahkan Ghea sampai nangis. Namun power suaranya yang kurang kuat disebabkan ingat pada Ayah dan Ibunya di Lampung,” tuturnya.

Targetnya Ghea bisa membawa gelar juara pertama, karena ini kali keduanya Ghea mengikuti perlombaan. Akan tetapi, ia cukup puas dengan penampilan Ghea, karena sudah menghibur dan membuat yang hadir di GSG meneteskan air mata.

Sikap Ghea yang disukai guru pembimbingnya, Ramba. Ghea termasuk murid yang mudah diarahkan dan dibentuk serta mudah memahami arahan.

Harapannya Ghea terus mengasah bakat yang dimiliki dan terus berkarya di bidang cipta dan baca puisi, walaupun di tahun depan tidak bisa ikut kembali karena sudah kelas 6 SD.

“Semoga nantinya masih ada kesempatan tampil lagi di jenjang selanjutnya, terus berkarya jangan putus asa,” tutupnya.

Di tempat terpisah, saat ditemui Mediapembaharuan.com Kamis (20/4), Ibu Ghea, Laila Tartila, mengungkapkan penyesalannya. Sebab ia merasa bersalah, karena tidak bisa menemani anaknya bertanding.

“Ibu sedih dan merasa menyesal, karena tidak bisa mendampingi dan memberikan dukungan kepada Ghea,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, bahwa guru pembimbing Ghea mengatakan bahwa anaknya menangis sewaktu membacakan puisi tentang Ibu.

“Ghea saat membacakan puisi tentang Ibu Karya Mustafa Bisri. Ia membacakannya dengan dengan mata yang berkaca-kaca, sebab Ghea teringat dengan saya sampai suaranya pun hilang,” lanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *