Keangkuhan sering hadir tanpa disadari. Ia tidak selalu tampil dalam bentuk sikap keras atau suara tinggi. Kadang ia bersembunyi dalam rasa paling benar, enggan dikritik, atau menolak nasihat dengan dalih harga diri. Dalam ajaran Islam, kondisi batin seperti ini digambarkan dengan ungkapan tegas: “summun, bukmun, ‘umyun” – tuli, bisu, dan buta – sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 18.

Ayat tersebut tidak berbicara tentang cacat fisik. Ia menggambarkan hati yang tertutup. Seseorang mungkin memiliki telinga yang berfungsi baik, tetapi tidak mau mendengar kebenaran. Ia mampu berbicara fasih, namun enggan mengakui kesalahan. Matanya tajam melihat dunia, tetapi gagal menangkap tanda-tanda kebenaran yang nyata.

Dalam konteks ini, “tuli” berarti menolak nasihat meski disampaikan dengan cara yang baik. “Bisu” berarti memilih diam ketika kebenaran perlu ditegakkan. “Buta” berarti menutup diri dari pelajaran yang seharusnya menyadarkan. Semua itu berakar pada satu sumber: keangkuhan.

Sejarah spiritual Islam juga mencatat bagaimana kesombongan menjadi sebab kehancuran. Sosok Iblis menjadi simbol penolakan karena merasa lebih tinggi dan lebih mulia. Keengganan untuk tunduk bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ego yang menguasai hati.

Fenomena ini tidak berhenti pada kisah masa lalu. Di era modern, keangkuhan bisa menjelma dalam perdebatan tanpa ujung di ruang digital, dalam sikap anti-kritik di ruang kerja, atau dalam relasi sosial yang renggang karena masing-masing merasa paling benar. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa langka. Diskusi ramai, tetapi pemahaman minim.

Pengamat sosial menilai bahwa tantangan terbesar masyarakat hari ini bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan kurangnya kerendahan hati. Ketika ego lebih dominan daripada empati, ruang dialog menyempit. Ketika gengsi lebih tinggi daripada kejujuran, kebenaran sulit diterima.

Refleksi atas konsep “summun, bukmun, ‘umyun” menjadi pengingat bahwa kesehatan hati sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kerendahan hati membuka pintu pembelajaran. Kesediaan mengakui kesalahan menghidupkan nurani. Kemauan mendengar memperluas wawasan.

Keangkuhan mungkin memberi rasa superior sesaat, tetapi ia perlahan menutup cahaya kebenaran. Sebaliknya, sikap tawadhu menjadikan seseorang tetap peka, mau belajar, dan siap kembali ke jalan yang benar.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, pertanyaannya sederhana namun mendalam: apakah kita benar-benar mendengar, berbicara, dan melihat dengan hati yang terbuka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *